***
“Pulang sekolah kita bicarain tugas movie,” kata Nathan dan Zhafran sambil
lewat di sebalah ku dan Misya. Dan kau tahu, reaksi Misya saat itu, terkejut
senang. Dasar cewek, dikit-dikit ge-er, dikit-dikit ge-er. Aku sih biasa aja.
“jadi, kita akan buat
film tentang apa?” tanya Zhafran memulai pembicaraan. Semua tampak berfikir.
“tentang penghijauan gimana?”
usul Misya.
“menurutku, kelompok
yang lain pasti sudah memakai tema itu. Itu udah pasaran, ga asik!” balas ku.
Yap, lagi-lagi Nathan melirikku. Dan aku langsung merasa minder. Aku pun
terdiam.
“gimana kalau tentang Pergaulan
Remaja?” tanya Zhafran.
“Apalagi itu, Zhaf!”
balas Nathan. Lalu semua terdiam. Bingung dengan Tema yang harus di angkat.
“Aha! Gimana kalau
tentang alam? Kita bisa ke sungai biasa kan, Sa! Disana deket sawah, jadi kita
bisa wawancara sama petani-petani disana!” usul Misya. Dan semua pun jadi
semangat. Aku hanya. Mengangguk.
“aku juga!” balas
Zhafran.
“oke, oke, aku
setuju!” lanjut Nathan.
“kapan kita mulai
syuting?” Tanya ku sambil malu-malu.
“Besok. Kita ga bisa
nunda-nunda waktu lagi. Kelompok lain udah mulai ngambil gambar. Sedangkan kita
baru ngerapatin. Pokoknya, besok aku bawa Handycam ku. Kalian kalau punya juga
bawa aja. Jadi bisa di syut dari arah yang berbeda. Lalu jangan lupa bawa buku
kecil dan alat tulis, oke?” Pimpin Nathan yang sok pemimpin.
“oke bos!” kata Misya
dan Zhafran berbarengan. Lalu kami pulang kerumah.
Malamnya, setelah aku
makan malam bersama Ayah dan Mama, aku merebahkan badan ku di kasur yang
lumayan agak besar.
“Pegaal!” teriakku
sambil menarik tubuh. Tiba-tiba, nada dering SMS terdengar dari HP ku. Siapa ya, SMS malem-malem gini. Biasanya ga
pernah ada... jomblo sih, aku! Hihihi . kataku dalam hati.
“haa? Nomor nya belum
pernah ku Save? Baru dong? Siapa yaah??” tanya ku penasaran.
Dan begitu ku buka SMS
nya,
Ayesa, kamu punya Handycam
kan? Tolong bawa. Handycam punya ku rusak, dan sedang ku usahakan bisa. Untuk
jaga-jaga saja. Tolong ya. Maaf ganggu malam-malam gini. Makasih :)
-Nathan
Deg! Tiba-tiba saja
jantung ku berdetak lebih kencang. Ada apa ini? Tidak pernah sebelumnya aku
merasa seperti ini!
Dan dengan cepat aku
membalasnya.
Iya, akan ku minta pinjam
ke ayah ku. Semoga saja dia belum tidur. Dan ku harap handycam mu cepat sembuh,
Than! Oke, gamasalah ko. Sama-sama :)
Aku
pakai Emot senyum untuk akhiran? Entah kenapa, aku ragu mengirimnya. Jantung ku
berdetak lebih kencang lagi. Ada apa sih, dengan ku? Aah, sudahlah! Paling juga
dia tidak bales lagi. Lebih baik aku tidur.
Tapi, tak lama
kemudian, terdengar dering SMS lagi dari HP ku. Aaah, pasti itu hanya operator! Ujar ku dalam hati. Dan lagi-lagi,
aku tergaket. Nathan masih membalasnya!
Makasih, ini sudah lumayan
bisa kok. Oiyah, belum tidur jam segini? Gak baik loh buat perempuan..
Dan aku
merasa terbang! Tak pernah sebelumnya aku diperhatikan seperti ini! Entah,
semua emosi senang ku meluap! Dan aku terus membalasnya.
Ah, sudah biasa. Kamu
sendiri belum tidur... nanti aja ngelanjutin Handycam nya. Ini sudah larut.
Aku
gantian memerhatikannya! Bagaimana ini bisa? Aaaah, aku malu!
Dan
sampai malam, aku terus berSMSan dengan Nathan. Rasanya aku senang sekali. Ini
benar-benar yang pertama untuk ku.
“Ayesa sayaang,
banguun..” ucap Mama.
“hoaamm... iya Ma, aku
bangun,” balas ku.
“ada apa semalam? Mama
rasa kamu senang sekali,” tanya Mama tiba-tiba.
GLEK! Bagaimana Mama
bisa tau? Aduuh, aku bener-bener malu!
“eehh? Engga kok maah,
biasa sajaa... lagian, dari mana Mama bisa tau?” kata ku balik bertanya.
“aaah, jangan bohong
kamu sama Mama. Tadi malam kan kamu mengigau keras sekali. Mama rasa kau mengigau
kan laki-laki. Siapa tuh namanya, Na....Na... ah, Mama lupa!” jawab Mama.
“Nana, mah, Nana!
A..aku.. hanya kecapean saja!” kata ku berbohong. Padahal, aku sudah yakin
bahwa aku mengigau kan Nathan!
“baiklah kalau begitu.
Kau memang belum berubah. Cepatlah mandi, ayah sudah menunggu mu sarapan,”
suruh Mama.
“Siap, Ma!” balas ku
sambil turun dari tempat tidur.
Aku segera mandi,
memakai seragam, dan ketika sarapan meminjam Handycam ayah.
-------
“ayo kita berangkat
sekarang!” seru Zhafran ketika kita berempat keluar kelas bersamaan.
“Siapa aja yang bawa
kamera?” tanya Misya. Aku dan Nathan mengangkat tangan.
“Baiklah, berarti, aku
dan Zhafran yang menjadi reporter!” seru Misya semangat.
Ketika kami sampai di
parkiran sepeda, kami langsung menaikinya. Zhafran dan Nathan melaju sangat
cepat dan berada di depan. Aku dan Misya di belakangnya.
“Sa, nanti pulangnya
beli es krim dulu, yah... kayaknya aku bakalan haus!” rengek Misya.
“hal gampang,” jawab
ku enteng.
“kalian sering beli es
krim di tikungan itu yah? Kami juga!” kata Zhafran.
“Siapa yang nanya?
Wleee,” kata Misya sambil mendahului mereka. Dan aku ikut di belakang nya.
Jadilah sekarang Zhafran dan Nathan yang berada di belakang.
Setibanya kami di tepi
sungai, kami langsung memakirkan sepeda kami.
“jadi, mulai dari
mana?” tanya Nathan.
“Syuting pemandangan
disini aja dulu, Than!” saran Zhafran. Nathan hanya mengangguk. Dan ia melirik
ke arah ku, kode agar aku juga mulai mensyuting.
“Sya! Kamu tulis
pertanyaan nya aja dulu!” teriak ku ke arah Misya yang sedang asik merendam
kaki nya di sungai.
“Oke saa!” jawab nya.
Sementara aku dan
Nathan sibuk mensyuting gambar. Zhafran dan Misya membuat pertanyaan wawancara.
Aku ingin mengambil angel yang bagus, jadi, aku berkeliaran di sekitar sawah
itu dan menemukan tempat yang penuh ilalang tinggi.
“waw,” kata ku
terpukau. Lalu aku mulai mengambil gambar disitu. Saking senang nya, gak sadar
aku udah lompat-lompat disitu sambil muter-muter. Rasanya, bahagia banget.
“hihi,” kata seseorang
di balik ilalang dengan handycam di tangannya.
“Nathan?” tanya ku
kaget. Jadi, selama ini dia memerhatikan ku? Juga mengambil gambarku? Aaah!
“Seneng ya, di tempat
terbuka kayak gini?” tanya nya halus sambil memainkan handycam nya.
“mmh, iyah. Kenapa
kamu ngambil gambar ku?” tanya ku polos.
“habis lucu sih,” kata
Nathan enteng. Deg! “wajah mu memerah, sa? Kamu sakit?” tanya Nathan tiba-tiba.
“eng...engga kok!”
jawab ku sambil mengalihkan pandangan. Lalu, ketika aku sedang menutup mata ku,
sebuah tangan menyentuh dahiku. Sontak aku kaget dan membuka mataku.
“Naa..Nathan?!” seru ku kaget. Nathan tepat berada di depan ku! Deket banget!
“iyah, kamu engga
sakit. Mungkin cuaca disini aja kali yah, yang terlalu panas. Maaf membuat mu
kaget, hanya untuk memastikan aja,” kata Nathan. Aku menundukkan kepalaku.
Rasanya malu banget!
“Ayesa?! Nathan?!
Cieeeee,” Seru Misya dan Zhafran yang tiba-tiba datang. Nathan langsung menjauh
dari ku dan bertindak seperti tidak terjadi sesuatu.
“Apa yang kalian
berdua lakukan disini?” tanya ku salting.
“Harus nya kami yang
nanya gitu! Iya gak, Zhaf? Hahaha,” jawab Misya. Lalu mereka berdua ber-tos-an
dan cekikikan.
“hari ini beres, ayo
kita pulang,” kata Nathan tiba-tiba. Sepertinya dia agak marah.
“eeeeh Than! Jangan
marah doong, kita Cuma bercanda kok!” seru Zhafran.
“aku engga marah,
emang udah selesai. Ayo pulang,” katanya sambil berlalu ke tempat sepeda kami
diparkirkan.
“yasudah,
ayo,” lanjut Misya. Dan kami semua pun pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar