Sabtu, 18 Mei 2013

Part 1

Halooo, balik lagi :D
tau ga, sekarang sasa mau nge-post cerita yang waktu itu sasa bikin... tapi karna kepanjangan, jadi mau sasa buat per-part. tiap minggu sasa update 1 atau 2 part. gimana? :D

okee, jadi untuk pertama, sasa ngupload nih, semoga ga ngecewaainn! x)
 oiyah, ini blum ada judulnya .__.

***


“Yeees, Ayees!” teriak Mama dari ruang makan.  “yaa Maa??” Balas ku kencang. “Sini bantu mama bikin sarapan!” .

Yap, namaku Ayesa Kirana. Orang-orang terdekat ku memanggilku Ayesa. Aku 15 tahun, dan sudah duduk di Sekolah Tingkat Atas. Aku orang yang periang, jarang galau, dan selalu Hepi. Tapi, aku takut sekali dengan laki-laki. Dari kecil, Mama membiasakanku untuk selalu bermain dengan sesama jenis. Alasannya pun rasional, agar aku tidak cepat besar. Dan aku sama sekali belum pernah merasakan suka pada laki-laki.


Aku sekolah di Caville High School. Sekolah yang lebih mengasah skill tiap muridnya, dibanding dengan pelajaran akademik. Skill yang ku punya adalah dibidang musik, sains, dan komputer. Seperti yang ku bilang di awal, aku tak punya satu teman laki-laki pun.


“Kemarin gimana hari pertama mu?” tanya Mama yang sedang memotong sandwich untuk sarapan. 


“Biasa aja, Ma! Cuma disuruh ngenalin diri, abis itu, di ajak keliling sekolah,” jawab ku.


“lalu, teman sekelas mu?” tanya Mama lagi.


“Bener-bener bikin aku bete, Ma! Semua temen sekelas ku ga se-keren temen sekelasnya Rere! Masa ada yang mainin permen karet ketika yang lain ngenalin diri. Ada yang sibuk bersiul-siul dan bikin telinga ku pengik. Ada yang suka bengong. Ada yang kerjaannya main bolaa, aja! Bete banget deh!” jelas ku. 


“Loh, tapi ada kan yang keren? Hehehe,” Mama menggoda ku.


“Maaa... Mama kan tahu kalau aku bener-bener ga tertarik sama cowo! Tapi kata temen-temen kelas sebelah, sih, ada cowok yang keren di kelas. Mana aku peduli!” balas ku sambil meneguk segelas susu putih.


“iya,iyaa... Mama ngerti. Sekarang habiskan Sandwich mu. Sebentar lagi jam setengah 7,” kata Mama. 


Dengan cepat, aku menghabiskan sarapan ku. Memakai seragam sekolah, dengan rok kotak-kotak krem putih se-bawah lutut. Kemeja putih lengan pendek. Dan dasi pita untuk perempuan. Aku memakai kaus kaki putih dan ku tarik sampai selutut, dan memakai sepatu fantofel hitam. 


“Maa! Aku berangkaat!” teriak ku keras dari pintu depan.


“iyaa! Hati-hati sayaang, semoga hari mu baik!” balas Mama.


Lalu aku mulai melangkah meninggalkan rumah dengan sepeda ku. Kota ku benar-benar asik untuk berpergian menggunakan sepeda! Trotoar khusus sepda di sediakan, dan dipenuhi pohon-pohon besar dipinggirannya. Tak begitu lama, aku sampai di gerbang sekolah. Lalu memakirkan sepeda ku. Dan berjalan menuju kelas. Kelas ku ada di lantai 2. Dan begitu sampai kelas, aku langsung duduk di bangku samping jendela. Belum semuanya datang, hanya aku dan 5 teman lainnya. Lalu aku mengeluarkan kamera dari dalam tas ku dan mulai mengambil beberapa gambar dari jendela samping.


Setelah aku bosan dengan kameraku, aku memasukannya kembali ke tas sekolah ku, dan mulai melamun. Tapi perasaan ku mulai aneh. Sepertii, ada yang memerhatikan ku! Aku mencoba melihat sekeliling. Dan benar saja! Anak lelaki yang duduk tak begitu jauh dari ku sedang melihat ku dengan diam-diam! Aku langsung membalikkan badan ku ke posisi semula dengan raut wajah aneh. ‘hiiih, kok dia merhatiin gitu, sih!’ kata ku dalam hati. Sebenarnya, dia hanya melirik ku. Dan aku tahu, dia melakukannya dengan hati-hati! Aku mencoba tenang. 


“Untuk tugas ini, ibu akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok!” kata Bu Ira, di tengah pelajaran. Aku bergidik. Di bagi menjadi kelompok? Bisa saja sama laki-laki, kan?


“untuk  kelompok yang ketiga, Nathan, Ayesa, Misya, dan Zhafran!” seru Bu Ira. Nama ku disebut! Dan aku sekelompok dngan Nathan? Lelaki yang tadi melirikku? Aku ga berani!


“Ibu harap, kalian mengerjakan tugas ini dengan sungguh-sungguh. Film Dokumenter berdurasi 10 menit, tema bebas, dan di kumpulkan 2 minggu lagi!” kali ini yang ada di otakku adalah, Bu Ira kejam.



Aku berjalan lemas ke arah parkiran sepeda. Seseorang menepuk pundakku.


“Sa!” serunya. Ketika aku menoleh ke belakang, untung saja, hanya Misya! 


“Apa, Sya?” tanya ku. 


“Kok kamu lemes gini, sih? Kita tuh beruntung banget tau, bisa sekelompok sama Nathan dan Zhafran! Mereka mirip banget, dan sama-sama keren! Kyaa!!” jerit Misya histeris. 


“aku tak peduli,” balas ku datar.


“iih, kamu mah! Engga tau ya, mana laki-laki yang keren mana yang engga? Atau bahkan engga ngerti tentang laki-laki sedikit pun? Duh, kamu tuh yah! Harus kursus nih di aku!” ujar Misya bawel. Misya adalah sahabat ku sejak SMP.


“Sya, plis deh! Ini cuma tugas movie, dan hanya 2 minggu! Lagian, aku baru bertemu mereka kemarin,” balas ku dengan agak keras. 


“Terserah kamu sih. Tapi kamu kan cantik, Sa! Kesempatan mu banyak, kalau engga buru-buru, nanti ku ambil loh!” canda Misya sambil nyengir.


“Ambil saja,” balas ku.


“Okee, jangan nyesel ya!” kata Misya mengingatkan. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.


“Kita ke kedai es krim dulu, yuk! Panas banget nih!” ajak ku.


“Oke, terus lewat sungai kecil yah, lumayan siang-siang gini, hehehe,” tambah Misya. Aku mengangkat satu jempol ku sambil tersenyum. Itu tandanya, ‘oke’.


Aku dan Misya memang sering main di sungai kecil yang agak jauh dari rumah. Disitu belum banyak yang tahu. Paling, hanya petani-petani yang bekeja dekat situ. Lagian, anak sekolahan mana yang mau datang dekat sawah? Ogah mungkin mereka. Tapi itu tempat favorit ku dan Misya.


Kami membawa es krim itu sambil menaiki sepeda. Dan sampai di tepian sungai. “akhirnyaa! Sudah lama kita ga kesini, yah!” teriakku sambil merebahkan badan di bawah pohon. Sepeda ku kuparkir kan dekat dengan sepeda Misya. 


“iyaah! Ayo cepat kita habiskan es krim nya, aku sudah tak sabar nyentuh air!” ujar Misya. 


Setelah es krim ku habis, aku melepas sepatu dan kaus kaki ku. Yap, kita nyeker. Dan langsung saling menyipratkan air. Kita ketawa-ketawa bareng, dan merendam kaki yang pegal menggoes sepeda. Setelah merasa lelah, kami merebahkan diri kembali di bawah pohon besar. Dan tanpa disadari, kami tertidur. 


“Syaa, Syaa! Langit udah mulai gelap!” teriakku ketika terbangun.


“wah iya! Kita harus cepat-cepat pulang!” aku dan Misya cepat-cepat bergegas pulang ke rumah masing-masing.


Sesampai nya di depan rumah, Mama sudah menunggu ku sambil berkecak pinggang.


“Dari mana saja kamu, Sa! Anak gadis, menjelas maghrib baru pulang. Baju dekil gitu, lagi!” tanya Mama menyindir ku.


“Aku dan Misya baru saja dari sungai itu lagi, Ma. Dan kita ketiduran di bawah pohon, saking lelahnya!” balas ku sambil menuntun sepeda ku masuk ke dalam rumah.


“Yasudah, sana mandi. Mama sudah siapkan makan malam. Ayah sebentar lagi pulang,” kata Mama. Aku hanya mengangguk.


Akhirnya, aku sudah mandi. Segar rasanya. Aku membasuh badan ku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan air hangat. Setelah itu memakai gaun tidur ku dan mengepang 2 rambut ku. Aku ingat perkataan Mama kalau makan malam sudah siap, dan perut ku keroncongan. Aku pun turun ke ruang makan. 


“Hai cantik,” sapa ayah ku.


“Hai ayah. Lama tak makan malam bersama,” balas ku.


“Akhir-akhir ini ayah banyak kerjaan. Kemarin, ayah baru pulang dari eropa. Tuh, oleh-oleh nya ada di kamar ayah,” katanya.


“seriuuss?! Yeeyy!” kata ku sambil berjingkrak. Ayah hanya tersenyum melihat ku.


Lalu kami makan malam bersama.
  

****

naah, itu part 1 nya .___. gaje banget gak sih? mehehehe, tapi itu masih awalaan, jadi blum ada yang seru2 nyaa gitu sama nathan :p di part 2, Insya Allah, udah ada kokk :D 
kalo ga seru bilang yah, biar ga di post lagi minggu depaan... gapapaa...

tengkyuu, ini cuma iklaan :D

19 Mei 2013
Sasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar