tau ga, sekarang sasa mau nge-post cerita yang waktu itu sasa bikin... tapi karna kepanjangan, jadi mau sasa buat per-part. tiap minggu sasa update 1 atau 2 part. gimana? :D
okee, jadi untuk pertama, sasa ngupload nih, semoga ga ngecewaainn! x)
oiyah, ini blum ada judulnya .__.
***
“Yeees, Ayees!”
teriak Mama dari ruang makan. “yaa
Maa??” Balas ku kencang. “Sini bantu mama bikin sarapan!” .
Yap, namaku
Ayesa Kirana. Orang-orang terdekat ku memanggilku Ayesa. Aku 15 tahun, dan
sudah duduk di Sekolah Tingkat Atas. Aku orang yang periang, jarang galau, dan
selalu Hepi. Tapi, aku takut sekali dengan laki-laki. Dari kecil, Mama
membiasakanku untuk selalu bermain dengan sesama jenis. Alasannya pun rasional,
agar aku tidak cepat besar. Dan aku sama sekali belum pernah merasakan suka
pada laki-laki.
Aku sekolah di
Caville High School. Sekolah yang lebih mengasah skill tiap muridnya, dibanding
dengan pelajaran akademik. Skill yang ku punya adalah dibidang musik, sains,
dan komputer. Seperti yang ku bilang di awal, aku tak punya satu teman
laki-laki pun.
“Kemarin gimana
hari pertama mu?” tanya Mama yang sedang memotong sandwich untuk sarapan.
“Biasa aja, Ma!
Cuma disuruh ngenalin diri, abis itu, di ajak keliling sekolah,” jawab ku.
“lalu, teman
sekelas mu?” tanya Mama lagi.
“Bener-bener
bikin aku bete, Ma! Semua temen sekelas ku ga se-keren temen sekelasnya Rere!
Masa ada yang mainin permen karet ketika yang lain ngenalin diri. Ada yang
sibuk bersiul-siul dan bikin telinga ku pengik. Ada yang suka bengong. Ada yang
kerjaannya main bolaa, aja! Bete banget deh!” jelas ku.
“Loh, tapi ada
kan yang keren? Hehehe,” Mama menggoda ku.
“Maaa... Mama
kan tahu kalau aku bener-bener ga tertarik sama cowo! Tapi kata temen-temen
kelas sebelah, sih, ada cowok yang keren di kelas. Mana aku peduli!” balas ku
sambil meneguk segelas susu putih.
“iya,iyaa...
Mama ngerti. Sekarang habiskan Sandwich mu. Sebentar lagi jam setengah 7,” kata
Mama.
Dengan cepat,
aku menghabiskan sarapan ku. Memakai seragam sekolah, dengan rok kotak-kotak
krem putih se-bawah lutut. Kemeja putih lengan pendek. Dan dasi pita untuk
perempuan. Aku memakai kaus kaki putih dan ku tarik sampai selutut, dan memakai
sepatu fantofel hitam.
“Maa! Aku
berangkaat!” teriak ku keras dari pintu depan.
“iyaa! Hati-hati
sayaang, semoga hari mu baik!” balas Mama.
Lalu aku mulai
melangkah meninggalkan rumah dengan sepeda ku. Kota ku benar-benar asik untuk
berpergian menggunakan sepeda! Trotoar khusus sepda di sediakan, dan dipenuhi
pohon-pohon besar dipinggirannya. Tak begitu lama, aku sampai di gerbang
sekolah. Lalu memakirkan sepeda ku. Dan berjalan menuju kelas. Kelas ku ada di
lantai 2. Dan begitu sampai kelas, aku langsung duduk di bangku samping
jendela. Belum semuanya datang, hanya aku dan 5 teman lainnya. Lalu aku
mengeluarkan kamera dari dalam tas ku dan mulai mengambil beberapa gambar dari
jendela samping.
Setelah aku
bosan dengan kameraku, aku memasukannya kembali ke tas sekolah ku, dan mulai
melamun. Tapi perasaan ku mulai aneh. Sepertii, ada yang memerhatikan ku! Aku
mencoba melihat sekeliling. Dan benar saja! Anak lelaki yang duduk tak begitu
jauh dari ku sedang melihat ku dengan diam-diam! Aku langsung membalikkan badan
ku ke posisi semula dengan raut wajah aneh. ‘hiiih,
kok dia merhatiin gitu, sih!’ kata ku dalam hati. Sebenarnya, dia hanya
melirik ku. Dan aku tahu, dia melakukannya dengan hati-hati! Aku mencoba
tenang.
“Untuk tugas
ini, ibu akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok!” kata Bu Ira, di tengah
pelajaran. Aku bergidik. Di bagi menjadi kelompok? Bisa saja sama laki-laki,
kan?
“untuk kelompok yang ketiga, Nathan, Ayesa, Misya,
dan Zhafran!” seru Bu Ira. Nama ku disebut! Dan aku sekelompok dngan Nathan?
Lelaki yang tadi melirikku? Aku ga berani!
“Ibu harap,
kalian mengerjakan tugas ini dengan sungguh-sungguh. Film Dokumenter berdurasi
10 menit, tema bebas, dan di kumpulkan 2 minggu lagi!” kali ini yang ada di
otakku adalah, Bu Ira kejam.
Aku berjalan
lemas ke arah parkiran sepeda. Seseorang menepuk pundakku.
“Sa!” serunya.
Ketika aku menoleh ke belakang, untung saja, hanya Misya!
“Apa, Sya?”
tanya ku.
“Kok kamu lemes
gini, sih? Kita tuh beruntung banget tau, bisa sekelompok sama Nathan dan Zhafran!
Mereka mirip banget, dan sama-sama keren! Kyaa!!” jerit Misya histeris.
“aku tak
peduli,” balas ku datar.
“iih, kamu mah!
Engga tau ya, mana laki-laki yang keren mana yang engga? Atau bahkan engga
ngerti tentang laki-laki sedikit pun? Duh, kamu tuh yah! Harus kursus nih di
aku!” ujar Misya bawel. Misya adalah sahabat ku sejak SMP.
“Sya, plis deh!
Ini cuma tugas movie, dan hanya 2 minggu! Lagian, aku baru bertemu mereka
kemarin,” balas ku dengan agak keras.
“Terserah kamu
sih. Tapi kamu kan cantik, Sa! Kesempatan mu banyak, kalau engga buru-buru,
nanti ku ambil loh!” canda Misya sambil nyengir.
“Ambil saja,”
balas ku.
“Okee, jangan
nyesel ya!” kata Misya mengingatkan. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan
pelan.
“Kita ke kedai
es krim dulu, yuk! Panas banget nih!” ajak ku.
“Oke, terus
lewat sungai kecil yah, lumayan siang-siang gini, hehehe,” tambah Misya. Aku
mengangkat satu jempol ku sambil tersenyum. Itu tandanya, ‘oke’.
Aku dan Misya
memang sering main di sungai kecil yang agak jauh dari rumah. Disitu belum
banyak yang tahu. Paling, hanya petani-petani yang bekeja dekat situ. Lagian,
anak sekolahan mana yang mau datang dekat sawah? Ogah mungkin mereka. Tapi itu
tempat favorit ku dan Misya.
Kami membawa es
krim itu sambil menaiki sepeda. Dan sampai di tepian sungai. “akhirnyaa! Sudah
lama kita ga kesini, yah!” teriakku sambil merebahkan badan di bawah pohon.
Sepeda ku kuparkir kan dekat dengan sepeda Misya.
“iyaah! Ayo
cepat kita habiskan es krim nya, aku sudah tak sabar nyentuh air!” ujar Misya.
Setelah es krim
ku habis, aku melepas sepatu dan kaus kaki ku. Yap, kita nyeker. Dan langsung saling menyipratkan air. Kita ketawa-ketawa
bareng, dan merendam kaki yang pegal menggoes sepeda. Setelah merasa lelah,
kami merebahkan diri kembali di bawah pohon besar. Dan tanpa disadari, kami
tertidur.
“Syaa, Syaa!
Langit udah mulai gelap!” teriakku ketika terbangun.
“wah iya! Kita
harus cepat-cepat pulang!” aku dan Misya cepat-cepat bergegas pulang ke rumah
masing-masing.
Sesampai nya di
depan rumah, Mama sudah menunggu ku sambil berkecak pinggang.
“Dari mana saja kamu,
Sa! Anak gadis, menjelas maghrib baru pulang. Baju dekil gitu, lagi!” tanya
Mama menyindir ku.
“Aku dan Misya
baru saja dari sungai itu lagi, Ma. Dan kita ketiduran di bawah pohon, saking
lelahnya!” balas ku sambil menuntun sepeda ku masuk ke dalam rumah.
“Yasudah, sana
mandi. Mama sudah siapkan makan malam. Ayah sebentar lagi pulang,” kata Mama.
Aku hanya mengangguk.
Akhirnya, aku
sudah mandi. Segar rasanya. Aku membasuh badan ku dari ujung rambut sampai
ujung kaki dengan air hangat. Setelah itu memakai gaun tidur ku dan mengepang 2
rambut ku. Aku ingat perkataan Mama kalau makan malam sudah siap, dan perut ku
keroncongan. Aku pun turun ke ruang makan.
“Hai cantik,”
sapa ayah ku.
“Hai ayah. Lama
tak makan malam bersama,” balas ku.
“Akhir-akhir ini
ayah banyak kerjaan. Kemarin, ayah baru pulang dari eropa. Tuh, oleh-oleh nya
ada di kamar ayah,” katanya.
“seriuuss?! Yeeyy!”
kata ku sambil berjingkrak. Ayah hanya tersenyum melihat ku.
Lalu kami makan
malam bersama.
****
naah, itu part 1 nya .___. gaje banget gak sih? mehehehe, tapi itu masih awalaan, jadi blum ada yang seru2 nyaa gitu sama nathan :p di part 2, Insya Allah, udah ada kokk :D
kalo ga seru bilang yah, biar ga di post lagi minggu depaan... gapapaa...
tengkyuu, ini cuma iklaan :D
19 Mei 2013
Sasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar